Diabetes Melitus Tembus Usia Remaja

       
Photo by Liliana Olivares on Unsplash 




 

Jumlah kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama beberapa dekade ini. Menurut data WHO pada tahun 2014 secara global diperkirakan sebanyak 422 juta orang dewasa hidup dengan diabetes dibandingkan dengan 108 juta pada tahun 1980. Prevelensi diabetes di dunia (dengan usia yang terstandarisasi) telah meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 1980, meningkat dari 4,7% menjadi 8,5% pada populasi orang dewasa. Hal ini mencerminkan peningkatan faktor resiko terkait seperti kelebihan berat badan atau obesitas. selama beberapa dekade terakhir, prevelensi diabetes meningkat lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah daripada di negara berpenghasilan tinggi (WHO Global Report, 2014). Di Indonesia sendiri penyakit DM didominasi oleh jenis kelamin perempuan (1,8%) daripada laki - laki (1,2%) dan didominasi oleh domisili perkotaan (1,9%) dibandingkan dengan perdesaan ( 1,0%). (Riskesdas, 2018). 

Kini diabetes telah menjadi salah satu penyakit pembunuh paling mematikan, tanpa pandang usia bahkan remaja hingga anak anak terseret oleh penyakit ini. Diabetes Melitus/DM/Kencing Manis sendiri adalah gangguan metabolik dengan ciri ditemukan konsentrasi glukosa yang tinggi didalam darah. WHO menyebutkah bahwa penyakit ini ditandai dengan munculnya ciri khas yaitu poliphagia, polidipsia, dan poliuria. Diebetes Melitus sendiri mempunyai banyak macamnya antara lain DM Tipe1 dimana penyakit ini muncul akibat kerusakan pankreas yang berdampak pada defisiensi insulin. DM Tipe2 dimana terjadi retensi insulin dan DM Tipe Lainnya yang bisa disebabkan oleh obat, zat kimia, infeksi, kelainan imunologi dan sindrom genetik lainnya. 

 DM juga merupakan penyakit gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak karena insulin tidak dapat bekerja secara maksimal. Entah karena kerusakan pada sel beta pankreas oleh pengaruh dari luar seperti obat-obatan, zat kimia dan sebagainya. Penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas atau kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer. Diabetes Melitus tidak akan terdiangnosa secara spesifik tanpa adanya pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan glukosa puasa, tes toleransi glukosa oral (TTGO), pemeriksaan glukosa sewaktu, HbA1c dan pemeriksaan urin. 

Karena DM tidak bisa secara instan dapat dipredikasi, ada beberapa penyakit DM yang hanya memunculkan sebagian gejala, seluruh gejala bahkan tanpa gejala. Diabetes Melitus pada jangka panjang akan menimbulkan komplikasi seperti kebutaan, gangguan fungsi ginjal, stroke, infrak micard, neuropati, penurunan resistensi terhadap infeksi dan gangren terutama pada ujung kaki. Pada saat ini generasi milenial sudah memiliki tren penyakit akibat pola hidup yang kurang sehat salah satunya Diabetes Melitus Tipe 2 dengan didukung pula oleh faktor genetik, obesitas, konsumsi munuman beralkohol, konsumsi makanan siap saji, kurang aktifitas fisik, stres yang berlebih dan adanya lemak dalam darah. 

Oleh karena itu pencehagan diabetes melitus pada remaja sangat penting kerena akan berdampak pada kelangsungan hidupnya dan untuk mencegahnya maka para remaja harus menghindari beberapa faktor yang sudah disebutan di kalimat sebelumnya. Untuk penatalaksanaan DM jangka pendek bertujuan untuk mengurangi gejala yang dirasakan penderita. Sedangkan penatalaksanaan jangka panjang bertujuan untuk mencegah komplikasi yang kemungkinan akan timbul. Penatalaksanaan tersebut dapat berupa terapi gizi medis, latihan jasmani, insulin dan obat-obatan oral.

Sebagai Referensi lanjutan silahkan mendowload Ebook kami 
EPUB & PDF
 https://drive.google.com/file/d/1h0Haq5bWrzA58NRnA97gtVR4vhDv5TD0/view?usp=drivesdk
 https://drive.google.com/file/d/1hGxyX8bgEYBb6AKyO37rhpCLrIIvrj4q/view?usp=sharing



Comments